Cerita Horor Gunung Ciremai (2)


 

Saya serta Ayu terus merayap perlahan. Intimidasi riil bersatu dengan halusinasi membuat mentalku makin loyo. Sedetik lalu saya lihat tangan keluar dari tanah, rupanya cuma akar. Pada kondisi ini pada akhirnya saya roboh. Suara istighfar perlahan masih terdengar dari mulut Ayu. Saya terjaga waktu merasai air fresh di mulutku. Rupanya Ayu tuangkan air supaya saya siuman.

Perlu Ketelitian Mencari Situs Togel


Kami mulai berjalan lagi. Situasi saat ini kembali. Saya yang hampir tidak punyai tenaga sisa dipapah oleh Ayu. Kelebatan-kelebatan bayangan masih nampak antara pohon. Disuatu tempat saya serta lihat kaki yang berayun-ayun. Tidak berani pastikan kaki siapa, saya pejamkan mata.


Sesudah melalui turunan yang cukup tajam, saya lihat dikiri jalan ada tenda. Saya lega bukan main, pada akhirnya kami selamat. 3 orang terlihat sedang melingkari api unggun. Seseorang lihat kami, ia mengangkat tangan. Saya dengan senang 1/2 berteriak ke Ayu. "Yu, kita singgah dahulu kesitu. Ngopi, istirahat, esok saja jalan lagi," sekalian menunjuk mengarah tenda.


Mendadak Ayu menamparku dengan keras sekalian berteriak-teriak histeris, "di, sadar di! Istighfar!! Tidak ada apa-apa disana!!"


3 orang itu saat ini semua melambai menyebut. "Itu ada orang Yu, mari ke sana. tidak enak, sudah dipanggil-panggil. Mari Yu..."


Ayu menamparku bertambah keras sekalian berteriak di kupingku memerintah istighfar. Kesempatan ini saat saya melihat ke kiri ke-3 orang itu telah memiliki jarak satu mtr. didekatku, sekalian nyengir aneh, mendadak kepala ke-3nya terlepas serta jatuh ketanah. Sekalian cekikikan kepala barusan menggelinding ke arahku.


Saya histeris serta langsung lari. Beberapa lama baru saya sadar, saya tinggalkan Ayu dibelakang. Kakiku lemas, jantung berderap kuat. Ingin balik mengejar Ayu, saya terlalu takut. Tetapi tidak lama kulihat Ayu berjalan turun. Demikian dekat, ia hanya menepukku ajak jalan lagi. Saya berjalan mengikutinya dibelakang.


Tetapi pelan-pelan saya melebarkan jarak dengan Ayu. Terus jelas saya tidak percaya, Ayu yang jalan didekatku ialah Ayu temanku. Semua doa saya panjatkan. Ada rasa, menyesal mengapa saya tidak hapal ayat bangku.


Saya berjalan dengan mata memandang ke tanah. Sebab di sekitarku penampakan berada di mana-mana. Serta sekalian mata terdiam ke tanah, saya dapat lihat disebelahku ada kaki kaki yang kulewati. Ada yang kecil, besar. Ada yang hitam. Ada yang menggunakan kain putih.


Jantungku terasanya ingin lepas saat Ayu yang berjalan tiga mtr. dimukaku mendadak lari serta langsung naik ke pohon sekalian ketawa cekikikan. Saya langsung putar arah, lari keatas lagi. Tidak jauh saya melihat Ayu bertumpu dipohon sekalian menangis. Instingku menjelaskan ini Ayu yang asli. Tetapi demikian kusentuh ia berteriak-teriak histeris.


"PERGI!! PERGI!!"


Ia langsung jatuh lemas waktu ia sadar saya yang menyentuhnya.


"Di, ini elu kan?"


Kami dengan tubuh gemetaran serta doa-doa mulai berjalan lagi. Semua penampakan ada. Ada yang menempati dipohon, kepala yang menyembul di semak-semak. Bau-bau busuk serta wangi melati yang berubah-ubah. Saya serta Ayu berupaya masih berjalan ditengah-tengah jalan. Kami benar-benar takut bila begitu kiri atau kanan ada tangan yang akan menarik kami ke semak.


Belum juga beberapa suara. Ada suara yang didengar geram tetapi dengan bahasa Sunda, ada yang ketawa cekikikan, ada yang ucapkan assalamu'alaikum berkali-kali. Saya pernah berlindung dibalik pohon saat lihat kuda melalui tanpa penunggangnya.


Kami pada akhirnya terlepas dari rimba dengan kerja keras. Belum pernah terpikir untuk lihat jam berapakah. Tetapi masalah belum juga ingin melepas kami. Satu dua tangan atau kepala masih ada serta hilang disudut mata kami. Lantas suara burung terdengar jelas. Kaok.. Kaok... Kaok...


Entahlah saya telah terlalu terlatih atau telah pasrah. Saya seratus % percaya ini tentu burung jadi-jadian. Melalui di atas kami burung hitam, terbang dengan perlahan. Rupanya bukan burung jadi-jadian, ini burung biasa. Saya lega selega-leganya.


Saya dengar Ayu istighfar perlahan, lantas jatuh tidak sadarkan diri. Perasaanku kembali lagi amburadul. Ada apakah lagi ini? Sebelum saya tidak sadarkan diri, saya pernah lihat apakah yang membuat Ayu roboh. Dibelakang burung barusan, ada yang terbang ikuti, satu kurung tangkai.

Postingan populer dari blog ini

Sindrom Cauda Equina Bisa Akibatkan Kelumpuhan Tetap

Can Be Beneficial?

the mark she made through generosity